Newton's Cradle

Selasa, 28 Februari 2012

Labakkang Kampung Halamanku (Part I)

Di edisi pertama ini, kita akan bercerita tentang sejarah kampung dimana saya dilahirkan, dibesarkan dan menjalani hidup dari umur 0 sampe 18 tahun (sekarang saya lagi berusaha meraih gelar S1 dengan target selama 4 tahun, jadi untuk sementara "minggat" dari tanah leluhur yang terkenal dengan hasil sawah dan empangnya ini)

Langsung saja...

Sejarah Kecamatan Labakkang

Kata “Labakkang” (Bahasa Makassar) secara harfiah berasal dari kata La'bba yang artinya luas atau lebar. Dalam terminologi bahasa Makassar, aklaba berarti melebarkan. Bisa juga diarrtikan pelesir atau istirahat. Jadi, arti kata Labakkang yang sesungguhnya ialah suatu tempat yang biasa digunakan untuk istirahat (tempat melepas lelah) ; tempat persinggahan ; atau tempat rekreasi. Penamaan ini mengacu kepada luasnya bentangan wilayah pesisir dari ujung utara sampai ke ujung selatan sepanjang pantai baratnya, disamping karena daerah ini banyak dikunjungi pada pendatang dari luar daerah yang akhirnya menetap dan berketurunan disitu. (Makkulau, 2008).

Andi Bahoeroe Karaeng Gaoe, Karaeng Labakkang ke 22 ini mengungkapkan bahwa kata ”Labakkang” (Bahasa Makassar) berasal dari kata ” A’labba ” yang berarti lebar dan ” A’gang ” yang berarti berteman atau bersatu. Kedua kata ini, menurutnya mengacu kepada Kondisi wilayah Labakkang yang luas / lebar serta karakter masyarakat Labakkang yang suka berteman. Hal ini mendapatkan konfirmasi di lapangan bahwa masyarakat Kecamatan Labakkang dihuni oleh dua etnis mayoritas, yakni etnis Bugis pada bagian timurnya dan Etnis Makassar pada bagian baratnya (Syamsul Alam Nyonri, Disbudpar Pangkep, 2007 : 6 dalam Makkulau, 2008).

Kenyataan ini menurut Andi Bahoeroe Karaeng Gaoe (Karaeng Loloa) karena pada waktu itu Somba Labakkang meminta bantuan orang – orang dari Bone dan Soppeng untuk membuka hutan dan lahan pertanian untuk bercocok tanam pada bagian timur Labakkang sehingga pendatang Bugis tersebut akhirnya menetap disitu secara turun temurun. Begitu pula halnya dengan kedatangan Orang – orang dari Gowa dan Galesong ke Labakkang bagian barat untuk menetap, membuka hutan dan bercocok tanam dengan persetujuan Somba Labakkang. Pada waktu itu Labakkang sangat terkenal dengan potensi hasil pertaniannya sehingga daerah ini banyak didatangi oleh orang – orang Bugis dan Makassar dari berbagai daerah. Kedua etnis ini hidup rukun dan damai. (Syamsul Alam Nyonri, Disbudpar Pangkep, 2007 : 6).

Dari sejumlah kerajaan yang pernah ada di Sulawesi Selatan, hanya tiga kerajaan yang diketahui rajanya bergelar “sombaya” yang berarti raja yang disembah, yaitu hanya Kerajaan Gowa, Kerajaan Bantaeng dan Kerajaan Labakkang. Sampai kira – kira Tahun 1653 Masehi, Kerajaan Labakkang bernama Kerajaan Lombasang. Perubahan nama dari Lombasang menjadi Labakkang menurut Sejarawan Daerah, (alm) Abdur Razak Daeng Patunru adalah atas perintah Sultan Hasanuddin setelah naik takhta dalam tahun 1653 sebagai Raja Gowa 16. Abdur Razak Daeng Patunru dalam tulisannya tersebut tidak menyebutkan alasan Sultan Hasanuddin sehingga mengubah nama Lombasang menjadi Labakkang. Diduga perubahan itu didasari atas kesamaan nama Lombasang dengan nama kecil Sultan Hasanuddin, I Mallombasi. (Makkulau, 2008).

Sejarah Kekaraengan Labakkang

Kekaraengan Labakkang berasal dan bermula dari kebangsawan Kerajaan Lombasang, yaitu sebuah kerajaan yang terletak di sebelah utara Siang. Sampai Tahun 1625, Kerajaan Lombasang masih berdiri sendiri, merdeka dan berdaulat, rajanya bergelar Sombayya (raja yang disembah) seperti gelar yang dipakai Raja Gowa, sampai kemudian kerajaan ini ditaklukkan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin (Tumenanga ri Agamana). Sejak itulah raja Lombasang dan seterusnya hanya berhak memakai gelar Karaeng saja. (Makkulau, 2008).

Ketika Sultan Hasanuddin, I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape naik takhta sebagai raja Gowa XVI dalam Tahun 1653, Beliau memerintahkan supaya nama Lombasang diubah menjadi Labakkang. Pada tahun 1667, daerah – daerah yang dikatakan Noorderprovincien (Daerah – daerah utara) yang kemudian disebut Noorderdistricten ditaklukkan oleh Kompeni Belanda yang bekerjasama dengan pasukan Bugis dibawah pimpinan Arung Palakka dengan kekuatan senjata. Hanya Labakkang sendiri yang menggabung dengan sukarela kepada Kompeni, tetapi kemudian, Labakkang mengadakan perlawanan terhadap kompeni. Kompeni terpaksa menaklukkan Labakkang dengan kekuatan senjata dan kerajaan itu dimasukkan tanah – tanah Gouvernemen berdasarkan pasal 20 dari Perjanjian Bungaya. (Makkulau, 2008).

Distrik Labakkang dikepalai oleh seorang Karaeng, membawahi 25 kepala kampong, diantaranya seorang yang bergelar Karaeng, seorang bergelar Gallarang, seorang bergelar Mado, tiga orang bergelar Matowa, tiga orang bergelar Jennang dan yang lain – lainnya masing – masing bergelar Lokmo. Kampong – kampong tersebut ialah Labakkang (lokmo), Labakkang (Gallarang), Tonasa (lokmo), Teko (Lokmo), kajumate (Lokmo), lembang (Lokmo), Turungang (Lokmo), Montjong Bori (Lokmo), Patjikombaja (Lokmo), Kasuwarang (Lokmo), Biringere (Lokmo), Bontobarani atau Kalibarang (lokmo), Gentung (Lokmo), Parang – Parang (Lokmo), Pattalassang (lokmo), Mangallekana (Lokmo), Djannalabu (Lokmo), Kabirisi (Matowa), Palambeang (matowa), Bontowa (Matowa), Boroanging (Jennang), Kanaungang (Jennang), KassiLoE (Jennang), Leang (mado), dan Bonto Tangnga (Karaeng). (Makkulau, 2008).

Dahulu Karaeng Labakkang didampingi oleh sebuat Hadat yang terdiri dari Lokmo Labakkang, Lokmo Tonasa, Lokmo Teko, lokmo Kajumate, Lokmo Lambang, Lokmo Turungeng, Lokmo Moncong bori, Lokmo Bolosino, Lokmo Patjikombaja, Lokmo Kasuwarang, lokmo Biringere, dan Gallarang Labakkang. Dari mereka itu, adalah Lokmo dan Gallarang Labakkang yang terkemuka. Dalam Upacara – upacara pelantikan Karaeng Labakkang itulah yang memegang peranan terpenting. Lokmo Labakkang adalah juga selaku pinati dari Kalompoang – kalompoang / Arajang – arajang dari Labakkang. Kalompoang kekaraengan Labakkang itu terdiri dari tiga pataka, yaitu Bolong Kampongnga atau Tamaloba, Bakkaka, dan Djinaka. Bolong Kampongnga berasal dari Karaeng Barasa (Pangkajene), Kalompoang mana diberikan selaku hadiah oleh raja Gowa kepada Karaeng Lombasang karena raja ini membantu raja Gowa pada permulaan abad XVII dalam peperangannya melawan Raja Barasa. Kedua kalompoang yang lain itu adalah masing – masing dari Karaeng Mangallekana dan Karaeng Malise. Kedua kekaraengan ini terletak dalam daerah Lombasang dan keduanyalah yang sebenarnya merupakan inti Kerajaan Lombasang. Labakkang dahulu rapat kekeluargannya dengan Gowa dan Bone. (Makkulau, 2008).

Somba Lombasang / Labakkang yang terkenal ialah La Upa, seorang bangawan tinggi yang pada dirinya menetes darah keturunan Gowa dan Luwu. Beliaulah yang memperanakkan I Biba Daeng Pa’ja Karaengta Campagaya yang diperisterikan oleh La Sulili Matinrowe ri Malili dari garis keturunan La Tenrisessu Cenning Luwu Arung Pancana, Raja Segeri merangkap Raja Agang Nionjo’ (Tanete), Barru sekarang ini . Dari hasil perkawinan keduanya inilah melahirkan Karaeng Labakkang La Ida MatinroE ri Balang yang kawin dengan Patta Ati anak dari Arung Mampu La Makkulau. Salah seorang anaknya yang terkenal dari Karaeng Matinroe ri Balang ini adalah La Maruddani Karaeng Bonto – Bonto. Karaeng Labakkang La Ida Matinroe ri Balang ini kemudian kawin lagi dengan I Endang Daeng Tonji yang melahirkan putera – puterinya, diantaranya ialah Karaengta Malise, Karaengta Campagaya, Karaengta Sapanang La Sanapipa Daeng Niasi dan Karaengta Tana – Tana La Yummu. Anaknya yang terakhir inilah, Karaengta Tana – tana La Yummu yang bersuamikan Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang (Raja Gowa yang terakhir). (Makkulau, 2008).

Regent Labakkang, Page Daeng PaliE juga melawan Belanda yang membuatnya diasingkan ke Bandung, berputerakan Sondeng Daeng Pasawi, ia menikah dengan I Dellung, puteri dari Karaeng Galesong yang bernama Majengkok Daeng Sila. Dari perkawinan itu lahirlah Tjalla Daeng Muntu, kemudian jadi Karaeng Labakkang. Puteranya yang bernama Andi Bahoeroe menggantikannya menjadi Karaeng Labakkang. Setelah terbentuk Kecamatan Labakkang beliau menjadi Camat Labakkang pertama, yang sekaligus menandai awal pemerintahan kecamatan di wilayah tersebut. (Makkulau, 2007 ; 2008).

Ini nih sejarah kampung gue...

"Dikutip dari Wikipedia"

Senin, 30 Januari 2012

Final Assignment of CALL


The Importance of Education in our Family
Education is the most important thing in our life this means that every human being deserves it and is expected to keep growing in it. Education in general have a sense of a life in self-development process of each individual to live and sustain life. So it becomes a well-educated is very important. We are educated to be useful for ourselves and our family
The first time we get education in the family environment (Informal Education), the school environment (Formal Education) and the environmental community (Non-formal Education). Informal education is education obtained from a person's everyday experience consciously or unconsciously, from birth to death. This educational process lasts a lifetime so that the role of the family was very important for children, especially the elderly. Parents educate their children with loving care. Affection given parent is endless and countless value. Parents teach us things that are good for example, how can we be polite to others, respect for others, and share with those who are deficient.
A normal human being, both children and adults are always needed something "feeling appreciated". Affection to the child's parents need to be stated. Children should know that we really loved. A child who loved to be loved his family, so children will feel that the children needed in the family. In such a situation the child will feel safe, valued, and cherished. The child will not feel afraid to express himself. Because the family was a source of strength membangunya. Thus will arise a situation of mutual help, mutual respect, which strongly supports to develope child’s behaviourism.
In the family that gives the maximum chance of growth, and development are parents. In the family environment of self-esteem grow as valued, accepted, loved, and respected as human beings.
That is the importance of why we become educated on the environment the family. Parents taught us start from childhood to respect other people this will lead to comfort and tranquility of life that will strengthen harmonious life.
 ens)
  
Families
Types
Tokens
Percent
K1 Words (1-1000):
107
138
301
79.42%
  Function:
...
...
(169)
(44.59%)
  Content:
...
...
(132)
(34.83%)
>   Anglo-Sax      
=Not Greco-Lat/Fr Cog:
...
...
(58)
(15.30%)
K2 Words (1001-2000):
14
19
35
9.23%
>   Anglo-Sax:     
...
...
(4)
(1.06%)
    1k+2k      

...
...
(88.65%)
AWL Words (academic):
17
19
24
6.33%
>   Anglo-Sax:     
...
...
()
(0.00%)
Off-List Words:
?
17
19
5.01%

138+?
193
379
100%


education is the most important thing in our life this means that every human being deserves it and is expected to keep growing in it education in general have a sense of a life in self development process of each individual to live and sustain life so it becomes a well educated is very important we are educated to be useful for ourselves and our family

the first time we get education in the family environment informal education the school environment formal education and the environmental community non formal education informal education is education obtained from a person everyday experience consciously or unconsciously from birth to death this educational process lasts a lifetime so that the role of the family was very important for children especially the elderly parents educate their children with loving care affection given parent is endless and countless value parents teach us things that are good for example how can we be polite to others respect for others and share with those who are deficient

a normal human being both children and adults are always needed something feeling appreciated affection to the child parents need to be stated children should know that we really loved a child who loved to be loved his family so children will feel that the children needed in the family in such a situation the child will feel safe valued and cherished the child will not feel afraid to express himself because the family was a source of strength membangunya thus will arise a situation of mutual help mutual respect which strongly supports to develope child behaviourism

in the family that gives the maximum chance of growth and development are parents in the family environment of self esteem grow as valued accepted loved and respected as human beings
that is the importance of why we become educated on the environment the family parents taught us start from childhood to respect other people this will lead to comfort and tranquility of life that will strengthen harmonious life

A.    Have you analyzed / conducted the same activity before? If yes, in what subject?, if not, why?
No, because I never found  before this software.

B.     What is your opinion about the analyzing vocabulary levels through www.lextutor.ca?
Mmm. . . I think, www.lextutor.ca is a Good web to analyzing our vocabulary

C.     What do you think about your vocabulary levels after analyzing them through www.lextutor.ca?
After analyzed my vocab with www.lexutor.ca, I think I should develope my vocabulary through another exercise or another way

D.    In what course do you need to improve your writing and academic vocabulary?
In all about writing

E.     Are you familiar with the vocabulary levels given in www.lextutor.ca?
No, are not.

F.      Have you learnt about those vocabulary levels?
No, I haven’t

G.    Is academic vocabulary important for you as a university student? if yes, what for?, if not, why?
Yes, it’s very important because it can help us in writing

H.    Do you think that this analyzing activity is useful to support your learning, especially in writing?
Yes, very useful

I.       In what course/learning material do you think should be suggested to improve your writing ability and high vocabulary level quality?
All about writing material

J.       Do you think that ICT/CALL/internet utilization is useful? Why? And in what manner?
Yes, because we can develope our writing. Ex: in the learning process

K.    What is your impressions and suggestions of CALL subjects and activities?
I think, CALL is a very good material. We get many new information about technolgi especially internet.

L.     What do you think about all your previous subjects and learning materials? Are they effective enough to support your vocabulary development? Explain your ‘yes’ or ‘no’ answer briefly.